Zelensky Tampil Lebih Sopan di Gedung Putih, Trump Sambut Hangat dengan Candaan
Info Nanga Pinoh- Pertemuan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih pada Senin (18/8/2025) berlangsung dengan nuansa yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini, Zelensky hadir dengan penampilan yang lebih formal, mengenakan setelan jas hitam lengkap dengan dasi. Penampilan itu jauh berbeda dengan gaya khasnya selama perang berlangsung, yaitu kaus lengan panjang bergaya militer yang kerap ia pakai dalam berbagai forum internasional.
Dari Kaus Militer ke Setelan Jas
Sejak Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada 2022, Zelensky meninggalkan pakaian formal ala negarawan. Ia lebih sering tampil dengan kaus dan celana kargo berwarna hijau tentara. Gaya itu dianggap simbol solidaritasnya dengan prajurit yang bertempur di garis depan. Bahkan pada awal perang, Zelensky berjanji tidak akan memakai jas dan mencukur janggutnya hingga Ukraina meraih kemenangan.
Namun kali ini, ada alasan khusus mengapa ia tampil berbeda. Menurut sumber diplomatik Eropa, Gedung Putih melalui kantor protokol secara halus meminta Zelensky untuk tampil lebih formal dalam pertemuan dengan Trump. Alasannya sederhana: pertemuan kali ini melibatkan banyak pemimpin dunia, sehingga diperlukan kesan lebih resmi.

Baca Juga : Gubernur Kalbar Ria Norsan Serahkan 47 Penghargaan di Malam Ramah Tamah HUT ke-80 RI
Sambutan Trump dan Candaan Oval Office
Begitu bertemu di Oval Office, Trump langsung menyalami Zelensky dan menyinggung soal penampilan barunya. “Dia berpakaian sangat rapi,” ujar Trump sambil tersenyum, disambut tawa para jurnalis yang hadir.
Seorang jurnalis konservatif, Brian Glenn, bahkan memuji penampilan Zelensky. Ia pernah menanyakan langsung soal gaya kasual Zelensky saat pertemuan di bulan Februari lalu. Kala itu, banyak kalangan di AS menganggap kaus militer Zelensky tidak sopan untuk pertemuan resmi di Gedung Putih.
Zelensky menanggapi candaan itu dengan ringan. “Saya yang berganti pakaian, tapi Anda (Trump) tetap dengan setelan yang sama,” ucapnya yang disambut tawa para hadirin. Namun ia menegaskan, setelah perang usai, dirinya akan kembali memakai pakaian yang lebih santai.
Pertemuan Bernuansa Tegang
Meski suasana pertemuan sesekali cair dengan canda, isi pembicaraan tetap serius. Trump baru saja mengadakan pertemuan terpisah dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska, hanya tiga hari sebelumnya. Dalam pertemuan itu, Trump menyebut ada peluang untuk membuka jalur diplomasi baru terkait perang Rusia–Ukraina.
Trump kemudian menyampaikan gagasan perundingan trilateral antara AS, Rusia, dan Ukraina. “Jika semuanya berjalan lancar, kita akan adakan perundingan trilateral. Kita bisa bekerja sama dengan Rusia, kita bisa bekerja sama dengan Ukraina,” ujarnya.
Zelensky menanggapi ide tersebut dengan hati-hati namun terbuka. “Kami siap untuk perundingan trilateral, seperti yang dikatakan presiden. Ini sinyal yang bagus,” ucapnya.
Dukungan Barat dan Keamanan Eropa
Trump menegaskan bahwa AS tidak akan mengirim pasukan langsung ke medan perang, namun ia menawarkan bentuk dukungan keamanan mirip NATO dengan jaminan dari Eropa. “Uni Eropa ingin memberikan perlindungan, dan mereka yakin bisa melakukannya. Kami akan mendukung,” kata Trump.
Pertemuan itu kemudian diperluas dengan melibatkan sejumlah pemimpin dunia, termasuk Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Friedrich Merz, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, hingga Sekjen NATO Mark Rutte. Diskusi fokus pada bagaimana membangun kerangka keamanan baru bagi Ukraina, serta kemungkinan kompromi wilayah yang hingga kini masih menjadi isu sensitif.
Bayangan Perdamaian dan Dilema Ukraina
Di sisi lain, Rusia melalui Wakil Duta Besar untuk PBB Dmitry Polyansky menegaskan harapan agar Ukraina tidak hanya mengejar kepentingan elit politik, tetapi juga mempertimbangkan keinginan rakyatnya untuk segera mengakhiri perang. “Rakyat Ukraina tidak ingin perang tanpa akhir. Mereka siap untuk perdamaian yang adil dan langgeng,” ujarnya.
Namun bagi Ukraina, tawaran perdamaian yang melibatkan kompromi wilayah tetap menjadi dilema. Profesor hubungan internasional dari Universitas Syracuse, Robert Murrett, menilai bahwa masa depan lima provinsi yang kini diperebutkan kemungkinan besar akan terpecah dalam tiga kategori berbeda: ada yang tetap bersama Ukraina, ada yang dikompromikan, dan ada yang berisiko dikuasai Rusia.
Penampilan Jadi Simbol Politik
Lebih dari sekadar mode, pakaian Zelensky kali ini dipandang sebagai simbol politik. Dari kaus militer ke setelan jas, pergeseran itu seolah menandai peralihan fokus dari medan perang ke meja diplomasi. Meskipun perang belum berakhir, langkah Zelensky mengikuti protokol formal di Gedung Putih memberi sinyal bahwa Ukraina kini semakin serius membuka ruang negosiasi.
Bagi Trump, pertemuan ini juga menjadi ajang menunjukkan bahwa dirinya mampu menyeimbangkan hubungan dengan Rusia sekaligus tetap berperan dalam mengarahkan masa depan Ukraina.
Pertemuan di Gedung Putih ini mungkin tidak menghasilkan kesepakatan langsung, tetapi jelas memperlihatkan satu hal: bahwa diplomasi kini mulai bergerak, dan bahkan pakaian seorang presiden bisa menjadi pesan penting bagi dunia.
















