Mengenal Penyakit Jaundice, Kondisi Kuning pada Kulit yang Perlu Diwaspadai
Info Nanga Pinoh- Di tengah masyarakat, istilah penyakit kuning atau jaundice sering terdengar. Kondisi ini ditandai dengan perubahan warna kulit, bagian putih mata (sklera), dan kadang-kadang juga lendir tubuh menjadi kekuningan. Meski sering dianggap ringan, jaundice sebenarnya bisa menjadi tanda adanya masalah serius pada organ tubuh, khususnya hati, kantung empedu, atau pankreas.
Apa Itu Jaundice?
Jaundice bukanlah penyakit tunggal, melainkan gejala dari berbagai gangguan kesehatan. Kondisi ini terjadi ketika kadar bilirubin dalam darah meningkat. Bilirubin adalah zat kuning hasil pemecahan sel darah merah. Normalnya, hati akan mengolah bilirubin agar dapat dibuang melalui urine dan tinja. Namun, bila terjadi gangguan pada proses ini, bilirubin menumpuk di dalam tubuh dan menyebabkan kulit serta mata terlihat kuning.

Baca Juga : Prabowo Hadiri Pertemuan Penting Soal Gaza, Erdogan Sebut Diskusi Beri Harapan Baru
Penyebab Jaundice
Ada beberapa penyebab utama terjadinya jaundice, di antaranya:
-
Gangguan pada hati
-
Hepatitis (peradangan hati)
-
Sirosis (kerusakan hati akibat jaringan parut)
-
Kanker hati
-
-
Gangguan pada saluran empedu
-
Batu empedu yang menyumbat saluran empedu
-
Tumor pada kantung empedu atau pankreas
-
-
Gangguan pada sel darah merah
-
Anemia hemolitik, yaitu kondisi di mana sel darah merah hancur terlalu cepat, sehingga hati kewalahan memproses bilirubin.
-
Gejala yang Perlu Diperhatikan
Selain perubahan warna kulit dan mata, penderita jaundice bisa mengalami gejala lain, seperti:
-
Urine berwarna gelap seperti teh
-
Tinja berwarna pucat atau keabu-abuan
-
Rasa lelah dan lemah berkepanjangan
-
Nyeri perut, terutama di bagian kanan atas
-
Mual, muntah, atau kehilangan nafsu makan
-
Gatal pada kulit
Gejala-gejala ini sering kali menjadi tanda awal adanya masalah serius pada sistem pencernaan atau metabolisme tubuh.
Jaundice pada Bayi Baru Lahir
Jaundice juga kerap terjadi pada bayi yang baru lahir. Kondisi ini disebut jaundice neonatal dan umumnya muncul karena organ hati bayi belum berkembang sempurna untuk mengolah bilirubin. Biasanya, jaundice neonatal akan hilang dalam beberapa minggu tanpa penanganan serius. Namun, bila kadar bilirubin terlalu tinggi, perlu dilakukan perawatan medis, misalnya dengan fototerapi.
Penanganan dan Pengobatan
Cara mengatasi jaundice tergantung pada penyebab yang mendasarinya:
-
Jika disebabkan oleh hepatitis, dokter akan memberikan obat sesuai jenis hepatitis.
-
Bila penyebabnya batu empedu, bisa dilakukan operasi atau prosedur medis untuk mengangkat batu.
-
Untuk kasus anemia hemolitik, penanganan dapat berupa transfusi darah atau terapi obat.
-
Pada bayi, fototerapi dan pemantauan intensif sering kali cukup untuk menurunkan kadar bilirubin.
Selain pengobatan medis, pasien juga disarankan menjaga pola hidup sehat, seperti mengurangi konsumsi alkohol, menjaga pola makan seimbang, serta rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.
Pentingnya Deteksi Dini
Di Indonesia, banyak kasus jaundice baru ditangani setelah kondisinya parah. Padahal, deteksi dini sangat penting agar pengobatan bisa lebih efektif. Masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami gejala kuning pada kulit atau mata.
Penutup
Jaundice bukanlah kondisi yang bisa disepelekan. Meski kadang tampak ringan, penyakit ini bisa menjadi tanda adanya gangguan serius pada hati, empedu, atau darah. Dengan kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini dan pola hidup sehat, risiko komplikasi akibat jaundice dapat ditekan.
















