Breaking News
Kumpulan informasi aktual seputar peristiwa penting yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia, meliputi isu politik, kebijakan pemerintah, bencana, dan dinamika sosial masyarakat.
Telkomsel Telkomsel Telkomsel Telkomsel

Mantan Pengawal Bongkar Rahasia Hidup Mewah Dinasti Kim di Korea Utara

cek disini

Mantan Pengawal Ungkap Kehidupan Tersembunyi Dinasti Kim di Korea Utara

Info Nanga Pinoh- Seorang mantan pengawal elit Korea Utara (Korut) mengungkap sisi gelap dinasti Kim yang selama ini tak pernah tersentuh publik. Dalam sebuah wawancara eksklusif di saluran YouTube “DimpleVideo”, pria yang dikenal sebagai Kang Jin ini menceritakan pengalaman 13 tahun bekerja di lingkaran terdekat pemimpin tertinggi Korut, lengkap dengan rahasia vila-vila mewah, pesta malam, dan aturan hidup yang keras.

Kang mengatakan, sejak awal dirinya telah ditanamkan doktrin mutlak: “Jika pemimpin mati, kami pun mati.” Kalimat itu bukan sekadar slogan, melainkan sumpah hidup-mati bagi mereka yang bertugas menjaga keluarga Kim.

Mantan Pengawal Bongkar Rahasia Hidup Mewah Dinasti Kim di Korea Utara
Mantan Pengawal Bongkar Rahasia Hidup Mewah Dinasti Kim di Korea Utara

Baca Juga : Amerika Serikat Tolak Visa 80 Pejabat Palestina, Sidang PBB Jadi Terganggu

Hidup di Balik Tembok Vila Rahasia

Kang direkrut ke Unit 97, korps pengawal elit, pada usia 17 tahun. Selama bertugas, ia mengawal dan berkeliling ke sejumlah vila rahasia Kim Jong-il, mulai dari Wonsan, Songam, hingga Changseong. Vila-vila ini bukan hanya tempat tinggal, tapi juga pusat kekuasaan yang super-eksklusif.

“Tempat-tempat ini tidak untuk rakyat,” ungkap Kang. “Bahkan anak-anak Kim Jong-il sendiri tidak selalu bisa masuk. Semua tentang eksklusivitas, semua tentang kekuasaan.”

Kompleks-kompleks itu dikenal sebagai teukgak—berlokasi di area paling indah di Korut, dikelilingi alam yang asri, tapi dijaga ketat oleh pasukan terpilih berdasarkan latar belakang keluarga, penampilan, dan loyalitas. Sekali masuk, sulit untuk keluar. “Begitu Anda bergabung di usia 17 tahun, Anda tidak bisa keluar selama 13 tahun,” kata Kang.

Pesta Mewah dan Kesenjangan Nyata

Kang juga menggambarkan malam-malam penuh pesta di balik pagar tinggi. Menurutnya, setiap malam mobil mewah berdatangan, musik diputar, dan perayaan dimulai pukul 20.00 hingga dini hari.

“Gadis-gadis muda berusia 17 hingga 20 tahun dibawa untuk menari dan menghibur. Semua yang terbaik: daging, minuman, wanita. Sementara itu, di luar pagar orang-orang kelaparan,” kata Kang.

Para pengawal seperti dirinya tidak pernah diundang masuk. Mereka hanya berjaga di luar, mendengar musik pesta tanpa pernah melihatnya langsung. “Kami diberi tahu, bahkan nyawa kami adalah milik pemimpin,” ujarnya.

Sistem Kontrol yang Ketat

Cerita Kang menunjukkan betapa ketatnya sistem pengendalian di Korut. Pengawal dipilih dengan saringan keras—tiga faktor penentu: keluarga, penampilan, loyalitas. Tak memenuhi satu saja, langsung tersingkir. Prinsip ini sejalan dengan sistem songbun, klasifikasi warga Korut berdasarkan garis keturunan dan kesetiaan pada rezim.

Sejak kecil, kata Kang, rakyat dicuci otak untuk memandang keluarga Kim bak dewa. Media asing dilarang, radio dan televisi hanya boleh menyiarkan saluran negara. “Anda tidak bertanya, Anda hanya patuh,” ujarnya.

Kang bahkan mengaku diberi wewenang untuk menembak warga sipil yang mendekati kompleks. “Aturannya jelas: hanya orang mati yang menyimpan rahasia,” katanya.

Patah Hati dan Pembelotan

Setelah 13 tahun bertugas, Kang dibebastugaskan pada usia 31 tahun. Di luar tembok kompleks, ia mendapati kenyataan pahit: kelaparan, kemiskinan, dan mayat di jalan. Ia kehilangan istrinya karena TBC, sementara pemimpin yang ia lindungi berpesta setiap malam.

Kesetiaan yang ia berikan tak berbalas. Kang bahkan ditolak promosi karena kerabat jauhnya dianggap berkhianat. “Saya sadar tidak punya masa depan,” ujarnya.

Akhirnya, ia memilih jalan paling berisiko: menyeberangi Sungai Amnok menuju China pada siang hari di musim dingin. “Saya pikir saya akan mati. Tapi lebih baik mati daripada terus hidup seperti itu,” katanya. Ia hanya membawa sedikit harapan dan amarah.

Dinasti Kim dan Cengkeraman Kekuasaan

Cerita Kang menambah daftar panjang kesaksian pembelot yang mengungkap kehidupan mewah dinasti Kim di tengah penderitaan rakyat. Sejak Kim Il-sung mendirikan negara pada 1948, lalu diteruskan Kim Jong-il, hingga kini di bawah Kim Jong-un, cengkeraman kekuasaan semakin kuat, ditopang propaganda, hukuman keras, dan teknologi pengawasan modern.

Di Korut, izin perjalanan dikontrol ketat, sesi kritik di tempat kerja menjadi rutinitas, dan pengawasan berlangsung hingga tingkat lingkungan. Perbedaan pendapat sekecil apa pun bisa berujung hukuman berat.

Risiko Setelah Melarikan Diri

Kang sadar bahwa bersuara setelah melarikan diri bukan tanpa risiko. Rezim Pyongyang dikenal memburu pembelot di luar negeri, dan keluarga yang ditinggalkan bisa menghadapi hukuman brutal. Namun ia merasa dunia harus tahu.

“Saya dicuci otak untuk percaya bahwa dia adalah dewa. Tapi yang saya lihat adalah pesta pora, kekejaman, dan kelaparan. Orang-orang harus tahu kebenarannya,” pungkasnya.

telkomsel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *