Terbongkar! Israel Bayar Influencer Rp121 Juta per Postingan untuk Redam Tuduhan Genosida Gaza
Info Nanga Pinoh- Upaya propaganda Israel di tengah sorotan dunia terhadap genosida di Gaza kembali terungkap. Sebuah laporan investigasi internasional menunjukkan bahwa pemerintah Israel secara sistematis membayar para influencer global dengan bayaran fantastis, yakni hingga USD 7.300 atau lebih dari Rp121 juta per postingan, untuk menyebarkan narasi yang menepis tuduhan kejahatan perang terhadap rakyat Palestina.
Laporan ini dipublikasikan oleh Responsible Statecraft pada Rabu (01/10/2025) dan ditulis oleh jurnalis investigasi Nick Cleveland-Stout. Temuan tersebut memperlihatkan bagaimana strategi komunikasi rezim Zionis dipimpin langsung oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang mendorong aparat dan sekutu medianya agar menggandeng figur-figur media sosial demi membentuk opini publik internasional.
Dalam sebuah pertemuan tertutup, Netanyahu bahkan secara gamblang mengatakan:
“Kita harus melawan. Bagaimana caranya? Dengan influencer kita. Mereka sangat penting, kalian harus berbicara dengan mereka bila ada kesempatan.”
Pernyataan ini sekaligus menjadi pengakuan terbuka bahwa Israel memang memanfaatkan influencer berbayar untuk mendominasi ruang digital dengan narasi yang memutihkan operasi militer mereka di Gaza.

Baca Juga : Sumud Flotilla di Cegat Kapal Perang Israel
“Esther Project”: Operasi Rahasia Propaganda Israel
Menurut dokumen yang diperoleh melalui Undang-Undang Pendaftaran Agen Asing (FARA) di Amerika Serikat, Kementerian Luar Negeri Israel diketahui mengontrak sebuah firma lobi dan humas berbasis di Washington DC bernama Bridge Partners.
Operasi ini berjalan dengan nama sandi “Esther Project” dan dikoordinasikan bersama perusahaan multinasional Havas Media Group Jerman. Proyek tersebut memiliki anggaran sekitar USD 900.000 (Rp15 miliar), yang dijalankan dari Juni hingga November 2025.
Setelah dikurangi biaya hukum dan administrasi, sekitar USD 552.946 (Rp9,2 miliar) dialokasikan khusus untuk membayar para influencer. Dengan perkiraan 75 hingga 90 unggahan berbayar selama periode Juni–September, setiap influencer rata-rata menerima USD 6.100–7.300 (Rp101–121 juta) per postingan.
Dengan angka sebesar itu, media sosial seperti TikTok dan Instagram pun berubah menjadi arena perang informasi, di mana publik disuguhi konten narasi pro-Israel yang sudah direkayasa.
Jaringan Perantara untuk Hindari Transparansi
Baik Bridge Partners maupun Havas hingga kini menolak memberikan komentar kepada wartawan mengenai siapa saja influencer yang mereka rekrut dan pedoman apa yang digunakan dalam mengatur konten berbayar tersebut.
Dokumen resmi menunjukkan bahwa skema ini dirancang agar Israel tidak terlihat sebagai sponsor langsung. Narasi sengaja disalurkan melalui perantara perusahaan AS, sehingga Tel Aviv bisa menghindari undang-undang transparansi dan tetap membanjiri media sosial dengan propaganda.
Diketahui, pendiri Bridge Partners, Yair Levi dan Uri Steinberg, masing-masing memegang 50 persen saham perusahaan. Mereka dibantu oleh penasihat senior Nadav Shtrauchler, mantan mayor Unit Juru Bicara Militer Israel—divisi yang selama ini dikenal sering menutup-nutupi kejahatan perang dan memanipulasi informasi pada masa konflik.
Sebagai pengacara, Bridge Partners juga melibatkan firma hukum Pillsbury Winthrop Shaw Pittman, yang sebelumnya pernah terhubung dengan NSO Group, perusahaan spyware pencipta Pegasus. Aplikasi mata-mata ini diketahui digunakan untuk melacak jurnalis, aktivis, hingga pembela hak asasi manusia Palestina.
Propaganda Gaya Baru: Influencer sebagai Senjata
“Esther Project” menjadi babak baru dalam strategi propaganda Israel. Jika sebelumnya perang informasi lebih banyak digerakkan melalui media arus utama dan kanal diplomasi resmi, kini Israel memanfaatkan budaya influencer Barat untuk melancarkan perang opini di dunia maya.
Dengan cara ini, narasi yang dibangun terlihat lebih “organik” dan lebih mudah diterima oleh generasi muda, terutama di platform populer seperti TikTok. Padahal, di balik konten berbayar itu tersimpan strategi sistematis untuk menyucikan operasi militer yang, menurut penyelidikan PBB, telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak.
Kesimpulan
Laporan investigasi ini menegaskan bahwa propaganda Israel bukan sekadar isu wacana, melainkan operasi komunikasi terstruktur dengan dana besar yang menggunakan influencer sebagai alat tempur.
Sementara dunia internasional terus mengecam tingginya angka korban sipil di Gaza dan menyebut tindakan Israel sebagai bentuk genosida, rezim Zionis justru menggelontorkan miliaran rupiah demi membentuk citra positif di ruang digital.
















