Hamas Desak Boikot Global Israel, Serukan Pertanyakan Keanggotaan di PBB
Info Nanga Pinoh- Seruan keras datang dari Hamas yang mendesak masyarakat internasional untuk mengambil langkah nyata terhadap Israel. Hamas meminta agar semua negara memutuskan hubungan ekonomi dengan Israel dan bahkan mempertanyakan keanggotaannya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atas tindakannya di Jalur Gaza.
Pernyataan itu disampaikan perwakilan Hamas di Iran, Dr. Khaled Al-Qaddoumi, dalam wawancara eksklusif bersama media internasional RT pada Rabu (17/9/2025). Dalam kesempatan tersebut, ia menuduh Israel melakukan genosida serta merusak berbagai upaya perdamaian yang telah dijalankan oleh pihak ketiga.

Baca Juga : Koramil 1205-01 Gelar Karya Bakti, Warga dan Pelajar Gotong Royong Jaga Kebersihan
Tuduhan Genosida dan Sabotase Perundingan
Al-Qaddoumi menegaskan bahwa Israel bukan hanya menyerang secara militer, tetapi juga secara sistematis menghancurkan harapan perdamaian di kawasan. “(Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu datang, membunuh para pemimpin kami, lalu melancarkan invasi baru dan menghancurkan menara hunian di dalam Gaza,” ungkapnya tegas.
Ia menyebut, Hamas sebenarnya telah menerima sejumlah proposal terkait pertukaran tahanan penuh. Namun, negosiasi gagal lantaran tindakan sepihak Israel yang dinilai menyabotase proses dialog. Menurutnya, hal itu membuktikan bahwa Israel tidak berniat serius mencari jalan damai.
Seruan untuk Boikot Global
Lebih jauh, Al-Qaddoumi menyerukan agar masyarakat internasional tidak lagi berhenti pada kecaman verbal. Dunia, katanya, perlu bergerak menuju tindakan politik dan ekonomi yang lebih tegas.
“Kita hari ini harus mempertanyakan keanggotaan Israel di PBB. Kita juga harus memutus semua kesepakatan bilateral serta menghentikan seluruh hubungan ekonomi dengan Israel,” tegasnya.
Ia pun menilai langkah terbaru Spanyol yang membatalkan kerja sama pertahanan dengan Israel sebagai contoh nyata yang harus diikuti negara lain. Madrid sebelumnya membatalkan kontrak bernilai lebih dari USD1 miliar yang melibatkan pembelian peluncur roket dan rudal anti-tank dari perusahaan Israel. Bagi Hamas, tindakan itu merupakan sinyal kuat bahwa tekanan global dapat memengaruhi kebijakan Israel.
Peran Negara Mediator dan Kritik pada Amerika Serikat
Dalam wawancara itu, Al-Qaddoumi memuji Qatar dan Mesir yang selama ini aktif menjadi mediator antara Hamas dan Israel. Namun, ia menuding Israel selalu menggagalkan setiap peluang perdamaian yang coba dibangun kedua negara tersebut.
Sementara itu, ia melontarkan kritik tajam kepada Amerika Serikat yang dianggap bersikap munafik. Menurutnya, meski Washington ikut mengecam serangan udara Israel ke Doha, Qatar, yang menewaskan enam orang termasuk seorang petugas keamanan, namun tidak ada langkah nyata yang diambil.
“Semua orang mengutuk serangan terhadap Qatar dan pembunuhan acak terhadap warga sipil. Namun, tanpa tindakan konkret, kecaman itu tidak ada artinya,” ujarnya.
Krisis Kemanusiaan yang Terus Memburuk
Data otoritas kesehatan di Gaza menyebut, sejak 2023 hingga kini, lebih dari 65.000 warga Palestina telah kehilangan nyawa akibat serangan militer Israel. Angka ini menggambarkan skala penderitaan yang dihadapi masyarakat sipil di kawasan tersebut.
Hamas menegaskan, penderitaan rakyat Palestina tidak akan berakhir tanpa adanya tekanan internasional yang lebih kuat. Bagi mereka, boikot global terhadap Israel adalah jalan yang harus segera ditempuh dunia untuk menghentikan siklus kekerasan.
















